Dari
lembah tandus, Aku, Farel dan Ocan melihat sekumpulan hewan ternak mati karena
kemarau panjang yang telah melanda wilayah ini. Sejauh mata kami memandang,
begitu pekat asap dari kebakaran hutan yang melanda wilayah ini. Entah mengapa
ini biasa terjadi. Bau hangus pepohonan terbakar begitu menusuk indrera
penciuman kami.
“broo,,
hebat betul tempat ini!” gue memulai percakapan. ”iya Lex,, habis semua. Tidak
ada yang tersisa” lanjut Ocan.
Nyiris
betul melihat tempat ini. Kalau aku gambarkan, seperti padang safana yang ada
di Afrika, tapi yang ini lebih parang, karena di tambah dengan kebakaan lahan
yang menimpa wilayah ini.
“sungguh
biadap. tidak punya otak yang telah
membakar hutan ini.” Ocan berseru.
Kami adalah Mahas siswa pecinta alam
yang sedang berekspedisi di kawasan perhutanan di Kepulauan Riau. Kami
malakukan ekspedisi ini bukan tanpa tujuan. Kami melakukan ini karena kami
menolak pembakaran hutan untuk membuka lahan perkebunan sawit. Bukan maksud
untuk campur tangan dalam hal ini, tapi karena hal inilah banyak satwa satwa
yang ikut terbakar, asap dimana mana yang dapat meencemari lingkungan sekitar.
Dengan
ketidak setujan kami dengan hal itu, maka kami terdorong untuk melawan itu
sesuai title kami “MahaSiswa Pecinta Alam”
“kriiing
kriiing kriiing..!!!” alarm jam gue berbunyi menunjukan pukul 07 : WIB. Segera
gue bergegas untuk mandi. Mulai dari sikat gigi, shampoan, sabunan dan akhirnya
selesai semua, gue segera menelpon Farel dan Ocan. Mereka ini adalah sahabat
gue yang paling jos. Kami saling kenal sejak semester 3 di perkuliahan.
Pertama
gue menelpon Ocan “broo sudah siap belom.?”
“bentar
lagi nih, lagi nyiapin bekal.” Jawab Ocan. “siip kabari kalau sudah siap!”
kataku sambil mematikan panggilan.
“hallo,,
sudah siap balom loe..?” tanya gue di telpon. “ udah nih, gue mau ke rumah loe
sekarang” jawab Farel. “okey gue tunggu!” lanjut gue.
Sambil
nunggu mereka datang, gue nyiapin kopi untuk mereka. Ya berhubungan dengan dinginnya
pagi ini.
“tuuuut
tuuuut tuuut” hape gue bunyi. Ternyata telpon dari Ocan. “broo, gue dah siap,
segera berangkat” kata Ocan girang. “okey,, gue tunggu di depan rumah gue” kata
gue. “ siip” lanjut Ocan.
Ocan
yang pertama nyampe rumah gue, karena kebetulan rumahnya dekat dengen rumah
gue. Tak berselang lama, sekitar 10 menitan, Farel pun menyusul.
“gimana,
sudah siap pa blom loe pade..?” tanya Farel sambil keluar dari mobil Jipnya.
“siap
dong..!!” jawab gue dan Ocan bareng.
“Cepet
masukin semua barang barang loe pade, jangan sampe ada yang ketinggal, bisa
kacau rencana nanti” perintah Farel sok Cool.
“yoo
man,, udah semua. Tidak ada yang ketinggal” kata gue. “ ya dah, cepetan masuk,
keburu siang nanti. Takut panas, takut kulit gue hitem” celocos Farel.
Ya
jarak antara rumah gue sampe ke hutan ya lumayan jauh, sekitar 3 jam an lah.
Tapi itu semua tidak membuat semangat kami pudar. Demi menyelamatkan hutan kami
tercinta, kami siap utuk segala resiko yang menghalang. Hingga sampe sampe
mobil yang kita tunggangi mogog dan terpakasa kami dorong sampe bengkel.
“baru
bentar aja udah kena masalah, apa lagi sudah sampe sana..!!” celocos Farel.
Farel memang di kenal sangat manja, penuh perarawatan kaya cewe gitu deh.
Kurang
lebih udah 3 jam kami dalam perjalanan, akhirnya sampai juga. Begitu
terkejutnya kami ketika kami di sambut dengan asap putih pekat yang segera
menghalangi jarak pandang kami.
“bro,
padahal kita belum sampai hutan, tapi huuu...! asapnya sungguh menggila”
celocosku. Memang udara di sekitar kami ini udah tidak layak untuk di hirup.
Dengan segera aku menyuruh agar memakai masker rumah sakit.
“benar
bro... liat aja ini, kasian gue lihat hewan ini” kata Farel sambil membopong
monyet yang hangus terbakar.
Kami
di area itu hanya sekitar 1 jam. Karena kedatangan pertama kali kami kesini
adalah untuk mengejek dulu keadaan area
sekitar. Lagi pula kami juga belum membawa perlengkapan yang layak untuk
kondisi yang sangat parah ini. Mungkin 2 hari lagi kami berangkat lagi.
“ayok
broo,, kita pulang, perlengkapan kita kurang. Tidak baik untuk berkemah, lagian
kita juga tidak punya banyak tenaga untuk mengatasi ini” ajak gue langsung
masuk mobil.
Kami
pun langsung bergegas pulang.
Sekitar
pukul 13 :00 WIB, kami sampai di rumah gue.
“okey
broo, kita pulang dulu!” Ocan dan Farel pamit.
Ke
esokan harinya, gue pun kirim sms sama Ocan dan Farel.
“hey
loe pade, cepetan ke rumah gue” Sms gue.
Tak
butuh waktu lama buat nunggu mereka datang. Ternyata kedatangan mereka kali ini
tidak seperti biasa. Kini Ocan datang bersama dengan mobil Farel. Keluar dari dalam mobil, ocan berkata
“ada apa coy..?” “kali in kita akan bekerja sama dengan petugas Damkar” jawab
gue.
Dengan
segera, Farel pun berkata dengan tegas “ayo cepetan naik, kita segera let’s
go...!”
“eits,
tunggu dulu, gue belum mandi” kata gue sambil cengingisan. “yaudah cepetan”
bentak Ocan.
Sekitar
20 menit, akhirnya kami berangkat. Selama perjalanan, kami saling bercanda
sampai sampai tidak memperhatikan jalan dan hampir saja kami menabrak anjing.
Setibanya
di markas Damkar, kami langsung di hentikan oleh seorang petugas piket yang
sementara berjaga di gebang.
“STOP..!
turun..!” perintah petugas itu dengan tegas. Tanpa basa basi, kamipun
menurutinya.
“ada
keperluan apa kalian semua datang ke sini..?” tanya petugas itu. Sambil
memeriksa mobil kami. Bagaimana petugas itu tidak curiga, penampilan kami aja
cukup urakan. Ya tahu sendiri bagaimana gaya anak perkuliahan.
Ya karena niat kami baik, kami pun
menjelaskannya dengan baik pula bahwa kami mempunyai inisiatif untuk ikut
petugas Damkar dalam mengatasi kebakaran hutan di tempat yang kami tuju lalu.
Pertama
permintaan kami di tolak. Namun setelah lama bernegosiasi, akhirnya kapi pun
boleh ikut dalam mengatasi kebakaran di Kepulauan Riau. Namun ada beberapa syarat
yang harus kami ikuti. Yang pertama kami harus memiliki surat keterangan sehat
dari dokter. Yang ke dua, surat izin dari kampus dalam rangka mengikuti
kegiatan ini.
Selain
berbicara masalah ini, kami pun bertanya tanya tentang apa semua yang ada dalam
markas Damkar ini. Setelah sekian lama di sana, akhirnya kami pun pulang.
“baik
pak, kami mengucapkan terima kasih atas semua waktunya. Kami juga minta maaf
karena datang kemari tanpa mengabarinya terlebih dahulu” katau gue mewakili
temen temen gue.
“iya
sama sama. Tidak papa kok, itu juga sebagian tugas dari kami untuk melakukan pengenalan
tentang apa itu Damkar dan apa semua yang ada. Ya tapi alangkah lebih baik jika
tadi ade ade semua ini memiliki izin dulu dari kampus untuk melakukan kunjungan
ini” kata petugas Damkar yang telah meluangkan waktu untuk kami.
“kalau begitu, kami minta izin untuk
pulang” kata gue. “iya. Jangan segan segan untuk datang kemari lagi. Siapa
tahu, bisa menjadi salah satu anggota Damkar” gurau sang petugas.
Kami
pun pulang menuju rumah gue. Dari pembicaraan tadi, kami akan mengikuti petugas
Damkar itu besok.
Sesampainya dirumah, kami langsung
bergegas mengambil uang untuk pemeriksaan kesehatan di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, kami
langsung mengambil nomor antri. Beruntung nomor yang kami ambil masing masing
tidak lama sudah di panggil. Kami sangat berharap sekali kalau kami ini berada
dalam kondisi sehat. Ternyata doa kami terwujud. Kami di nyatakan dalam kondisi
sehat.
“broo
sehat bro..” girang Ocan.
“ayo
dah, kita pulang” bujuk gue.
Dan
akhirnya kita dah sampai di rumah masing masing, dan tidak sabar menunggu hari
esok.
ESOK
HARI TELAH TIBA. Alarm gue bunyi. Gue langsung bangun dan langsung menelepon
mereka semua. Tiba tiba Farel berkata “eh bro, kita belum ambil surat izin dari
kampus. Mati kita tidak bisa ikut Damkar.” Farel panik.
Tidak mau buang waktu, kami langsung
pergi ke Kampus untuk menemui Kepala kampus untuk memintan surat keterangan
izin. Untung kepala kampus orangnya enak kan. Alhasil kami pun udah dapan dua
syarat dari Damkar.
“kriiiing
kriiing kriiing” hepe gue bunyi, ternyata dari petugas Damkar yang kemarin.
“bagaimana,
apakah ade ade sudah siap?” tanya petgas itu. Langsung saja gue jawab dengan
tegas “siap pak, kami segera menuju ke tempat bapak!”
Tanpa
pulang kerumah, kami pun langsung brangkat, karena segala perlengkapan yang
memadai telah ada dalam mobil.
Dalam
perjalanan, kami memacu kendaraan dengan kecepatan penuh karena tidak sabar
untuk segera sampai.
“broo
pelan pelan saja broo,, mrinding gue”
kata Ocan sambil meepuk nepuk pundak Farel kerena ketkutan. “aih begini uadah
laju..? laju tu kaya gini” kata Farel malah menambah laju kendaraannya.
“brooo,
gue takut, gue belum nikah bro.” Ocan makin histeris. Gue dan Farel hanya
tertawa. “iya deh” kata Farel sambil menurunkan kecepatan.
Akhirnya kami telah sampai di markas
Damkar.
Sebelumnya kami meminta izin kepada
petugas piket sambil melihatkan surat tanda izin dari kampus. “baiklah. Segera
masuk!” kata petugas itu sambil mempersilahkan kami masuk.
Dengan segera kami menuju petugas
kemarin yang ternyata dia itu adalah seorang komandan.
Tidak
lama kami untuk dapat bertemu dengan komandan itu.
“selamat pagi. Kami dari Maha Siswa
yang kamarin hendak menyerahkan syarat yang kami sudah tepati. Dan kami telah
siap untuk mengikuti kegiatan Damkar. Kata Farel sambil memberikan surat itu
kepada komandan.
“hmm..
baiklah, segara ade ade untuk berganti kostum orange yang telah siapkan” kata
Komandan itu.
Mulai
memakai baju orange yang cukup tebal, mungkin supaya badan tidak terasa
terbakar saat memadamkan api. Lalu memakai celana yang cukup tebal juga,
memakai sapatu bot yang cukup tebal pula. Tak lupa kami pun memakai topi.
Setelah semuanya selasai, kami langsung menuju markas besar yang telah banyak
petugas yang berkumpul untuk berdoa agar bisa selamat saat bertugas.
Setelah itu, kami pun langsung naik
ke mobil Damkar yang cukup canggih. Sirine pun di bunyikan. “nieut niut niut”
suara sirine itu. Mobil pun melaju ke tempat tujuan.
“akhirnya
gue bisa juga naik mobil ini” guman gue dalam hati.
Setelah sampai, semuanya dengan
sigap mengambil perlengkapan untuk memadamkan api yang cukup garang. Seperti
kadatangan kami yang lalu, belum sampai titik api saja, kami sudah di sambut
kabut asap yang cukup pekat.
Menunggu aba aba dari komandan, kami
semua telah siap. Angsung saja ada komando dari Komandan “semuanya siap..?
maju...!” kata komandan itu sambil menunjuk titik api.
Dengan segera gue dan yang lainya
pun segera memaamkan api.
SEKIAN!!!!!!!!!!