Sabtu, 03 Oktober 2015

3 ASAP


Dari lembah tandus, Aku, Farel dan Ocan melihat sekumpulan hewan ternak mati karena kemarau panjang yang telah melanda wilayah ini. Sejauh mata kami memandang, begitu pekat asap dari kebakaran hutan yang melanda wilayah ini. Entah mengapa ini biasa terjadi. Bau hangus pepohonan terbakar begitu menusuk indrera penciuman kami.
“broo,, hebat betul tempat ini!” gue memulai percakapan. ”iya Lex,, habis semua. Tidak ada yang tersisa” lanjut Ocan.

Nyiris betul melihat tempat ini. Kalau aku gambarkan, seperti padang safana yang ada di Afrika, tapi yang ini lebih parang, karena di tambah dengan kebakaan lahan yang menimpa wilayah ini.
“sungguh biadap. tidak punya otak  yang telah membakar hutan ini.” Ocan berseru.
Kami adalah Mahas siswa pecinta alam yang sedang berekspedisi di kawasan perhutanan di Kepulauan Riau. Kami malakukan ekspedisi ini bukan tanpa tujuan. Kami melakukan ini karena kami menolak pembakaran hutan untuk membuka lahan perkebunan sawit. Bukan maksud untuk campur tangan dalam hal ini, tapi karena hal inilah banyak satwa satwa yang ikut terbakar, asap dimana mana yang dapat meencemari lingkungan sekitar.
Dengan ketidak setujan kami dengan hal itu, maka kami terdorong untuk melawan itu sesuai title kami “MahaSiswa Pecinta Alam”

“kriiing kriiing kriiing..!!!” alarm jam gue berbunyi menunjukan pukul 07 : WIB. Segera gue bergegas untuk mandi. Mulai dari sikat gigi, shampoan, sabunan dan akhirnya selesai semua, gue segera menelpon Farel dan Ocan. Mereka ini adalah sahabat gue yang paling jos. Kami saling kenal sejak semester 3 di perkuliahan.
Pertama gue menelpon Ocan “broo sudah siap belom.?”
“bentar lagi nih, lagi nyiapin bekal.” Jawab Ocan. “siip kabari kalau sudah siap!” kataku sambil mematikan panggilan.

“hallo,, sudah siap balom loe..?” tanya gue di telpon. “ udah nih, gue mau ke rumah loe sekarang” jawab Farel. “okey gue tunggu!” lanjut gue.

Sambil nunggu mereka datang, gue nyiapin kopi untuk mereka. Ya berhubungan dengan dinginnya pagi ini.

“tuuuut tuuuut tuuut” hape gue bunyi. Ternyata telpon dari Ocan. “broo, gue dah siap, segera berangkat” kata Ocan girang. “okey,, gue tunggu di depan rumah gue” kata gue. “ siip” lanjut Ocan.

Ocan yang pertama nyampe rumah gue, karena kebetulan rumahnya dekat dengen rumah gue. Tak berselang lama, sekitar 10 menitan, Farel pun menyusul.
“gimana, sudah siap pa blom loe pade..?” tanya Farel sambil keluar dari mobil Jipnya.
“siap dong..!!” jawab gue dan Ocan bareng.
“Cepet masukin semua barang barang loe pade, jangan sampe ada yang ketinggal, bisa kacau rencana nanti” perintah Farel sok Cool.
“yoo man,, udah semua. Tidak ada yang ketinggal” kata gue. “ ya dah, cepetan masuk, keburu siang nanti. Takut panas, takut kulit gue hitem” celocos Farel.

Ya jarak antara rumah gue sampe ke hutan ya lumayan jauh, sekitar 3 jam an lah. Tapi itu semua tidak membuat semangat kami pudar. Demi menyelamatkan hutan kami tercinta, kami siap utuk segala resiko yang menghalang. Hingga sampe sampe mobil yang kita tunggangi mogog dan terpakasa kami dorong sampe bengkel.
“baru bentar aja udah kena masalah, apa lagi sudah sampe sana..!!” celocos Farel. Farel memang di kenal sangat manja, penuh perarawatan kaya cewe gitu deh.

Kurang lebih udah 3 jam kami dalam perjalanan, akhirnya sampai juga. Begitu terkejutnya kami ketika kami di sambut dengan asap putih pekat yang segera menghalangi jarak pandang kami.
“bro, padahal kita belum sampai hutan, tapi huuu...! asapnya sungguh menggila” celocosku. Memang udara di sekitar kami ini udah tidak layak untuk di hirup. Dengan segera aku menyuruh agar memakai masker rumah sakit.
“benar bro... liat aja ini, kasian gue lihat hewan ini” kata Farel sambil membopong monyet yang hangus terbakar.

Kami di area itu hanya sekitar 1 jam. Karena kedatangan pertama kali kami kesini adalah untuk   mengejek dulu keadaan area sekitar. Lagi pula kami juga belum membawa perlengkapan yang layak untuk kondisi yang sangat parah ini. Mungkin 2 hari lagi kami berangkat lagi.
“ayok broo,, kita pulang, perlengkapan kita kurang. Tidak baik untuk berkemah, lagian kita juga tidak punya banyak tenaga untuk mengatasi ini” ajak gue langsung masuk mobil.
Kami pun langsung bergegas pulang.
Sekitar pukul 13 :00 WIB, kami sampai di rumah gue.
“okey broo, kita pulang dulu!” Ocan dan Farel pamit.

Ke esokan harinya, gue pun kirim sms sama Ocan dan Farel.
“hey loe pade, cepetan ke rumah gue” Sms gue.

Tak butuh waktu lama buat nunggu mereka datang. Ternyata kedatangan mereka kali ini tidak seperti biasa. Kini Ocan datang bersama dengan mobil  Farel. Keluar dari dalam mobil, ocan berkata “ada apa coy..?” “kali in kita akan bekerja sama dengan petugas Damkar” jawab gue.
Dengan segera, Farel pun berkata dengan tegas “ayo cepetan naik, kita segera let’s go...!”
“eits, tunggu dulu, gue belum mandi” kata gue sambil cengingisan. “yaudah cepetan” bentak Ocan.

Sekitar 20 menit, akhirnya kami berangkat. Selama perjalanan, kami saling bercanda sampai sampai tidak memperhatikan jalan dan hampir saja kami menabrak anjing.
Setibanya di markas Damkar, kami langsung di hentikan oleh seorang petugas piket yang sementara berjaga di gebang.
“STOP..! turun..!” perintah petugas itu dengan tegas. Tanpa basa basi, kamipun menurutinya.
“ada keperluan apa kalian semua datang ke sini..?” tanya petugas itu. Sambil memeriksa mobil kami. Bagaimana petugas itu tidak curiga, penampilan kami aja cukup urakan. Ya tahu sendiri bagaimana gaya anak perkuliahan.
Ya karena niat kami baik, kami pun menjelaskannya dengan baik pula bahwa kami mempunyai inisiatif untuk ikut petugas Damkar dalam mengatasi kebakaran hutan di tempat yang kami tuju lalu.
Pertama permintaan kami di tolak. Namun setelah lama bernegosiasi, akhirnya kapi pun boleh ikut dalam mengatasi kebakaran di Kepulauan Riau. Namun ada beberapa syarat yang harus kami ikuti. Yang pertama kami harus memiliki surat keterangan sehat dari dokter. Yang ke dua, surat izin dari kampus dalam rangka mengikuti kegiatan ini.
Selain berbicara masalah ini, kami pun bertanya tanya tentang apa semua yang ada dalam markas Damkar ini. Setelah sekian lama di sana, akhirnya kami pun pulang.
“baik pak, kami mengucapkan terima kasih atas semua waktunya. Kami juga minta maaf karena datang kemari tanpa mengabarinya terlebih dahulu” katau gue mewakili temen temen gue.
“iya sama sama. Tidak papa kok, itu juga sebagian tugas dari kami untuk melakukan pengenalan tentang apa itu Damkar dan apa semua yang ada. Ya tapi alangkah lebih baik jika tadi ade ade semua ini memiliki izin dulu dari kampus untuk melakukan kunjungan ini” kata petugas Damkar yang telah meluangkan waktu untuk kami.
            “kalau begitu, kami minta izin untuk pulang” kata gue. “iya. Jangan segan segan untuk datang kemari lagi. Siapa tahu, bisa menjadi salah satu anggota Damkar” gurau sang petugas.
Kami pun pulang menuju rumah gue. Dari pembicaraan tadi, kami akan mengikuti petugas Damkar itu besok.
            Sesampainya dirumah, kami langsung bergegas mengambil uang untuk pemeriksaan kesehatan di rumah sakit.
            Sesampainya di rumah sakit, kami langsung mengambil nomor antri. Beruntung nomor yang kami ambil masing masing tidak lama sudah di panggil. Kami sangat berharap sekali kalau kami ini berada dalam kondisi sehat. Ternyata doa kami terwujud. Kami di nyatakan dalam kondisi sehat.
“broo sehat bro..” girang Ocan.
“ayo dah, kita pulang” bujuk gue.
Dan akhirnya kita dah sampai di rumah masing masing, dan tidak sabar menunggu hari esok.

ESOK HARI TELAH TIBA. Alarm gue bunyi. Gue langsung bangun dan langsung menelepon mereka semua. Tiba tiba Farel berkata “eh bro, kita belum ambil surat izin dari kampus. Mati kita tidak bisa ikut Damkar.” Farel panik.
Tidak mau buang waktu, kami langsung pergi ke Kampus untuk menemui Kepala kampus untuk memintan surat keterangan izin. Untung kepala kampus orangnya enak kan. Alhasil kami pun udah dapan dua syarat dari Damkar.
“kriiiing kriiing kriiing” hepe gue bunyi, ternyata dari petugas Damkar yang kemarin.
“bagaimana, apakah ade ade sudah siap?” tanya petgas itu. Langsung saja gue jawab dengan tegas “siap pak, kami segera menuju ke tempat bapak!”
Tanpa pulang kerumah, kami pun langsung brangkat, karena segala perlengkapan yang memadai telah ada dalam mobil.
Dalam perjalanan, kami memacu kendaraan dengan kecepatan penuh karena tidak sabar untuk segera sampai.
“broo pelan pelan saja broo,,  mrinding gue” kata Ocan sambil meepuk nepuk pundak Farel kerena ketkutan. “aih begini uadah laju..? laju tu kaya gini” kata Farel malah menambah laju kendaraannya.
“brooo, gue takut, gue belum nikah bro.” Ocan makin histeris. Gue dan Farel hanya tertawa. “iya deh” kata Farel sambil menurunkan kecepatan.
            Akhirnya kami telah sampai di markas Damkar.
            Sebelumnya kami meminta izin kepada petugas piket sambil melihatkan surat tanda izin dari kampus. “baiklah. Segera masuk!” kata petugas itu sambil mempersilahkan kami masuk.
            Dengan segera kami menuju petugas kemarin yang ternyata dia itu adalah seorang komandan.
Tidak lama kami untuk dapat bertemu dengan komandan itu.
            “selamat pagi. Kami dari Maha Siswa yang kamarin hendak menyerahkan syarat yang kami sudah tepati. Dan kami telah siap untuk mengikuti kegiatan Damkar. Kata Farel sambil memberikan surat itu kepada komandan.
“hmm.. baiklah, segara ade ade untuk berganti kostum orange yang telah siapkan” kata Komandan itu.
Mulai memakai baju orange yang cukup tebal, mungkin supaya badan tidak terasa terbakar saat memadamkan api. Lalu memakai celana yang cukup tebal juga, memakai sapatu bot yang cukup tebal pula. Tak lupa kami pun memakai topi. Setelah semuanya selasai, kami langsung menuju markas besar yang telah banyak petugas yang berkumpul untuk berdoa agar bisa selamat saat bertugas.
            Setelah itu, kami pun langsung naik ke mobil Damkar yang cukup canggih. Sirine pun di bunyikan. “nieut niut niut” suara sirine itu. Mobil pun melaju ke tempat tujuan.
“akhirnya gue bisa juga naik mobil ini” guman gue dalam hati.
            Setelah sampai, semuanya dengan sigap mengambil perlengkapan untuk memadamkan api yang cukup garang. Seperti kadatangan kami yang lalu, belum sampai titik api saja, kami sudah di sambut kabut asap yang cukup pekat.
            Menunggu aba aba dari komandan, kami semua telah siap. Angsung saja ada komando dari Komandan “semuanya siap..? maju...!” kata komandan itu sambil menunjuk titik api.
            Dengan segera gue dan yang lainya pun segera memaamkan api.


SEKIAN!!!!!!!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar